Buka mata hati dan logika sahabat

oleh Andini Ar Raudha pada 31 Januari 2011 jam 20:09


Kita sering menemukan diskusi antara netters Muslim dan Kristen yang mencoba memperbandingkan kandungan Al-Qur’an dengan Alkitab, namun kalau ditinjau dari sudut pandang masing-masing hal tersebut tidaklah 100% tepat. Al-Qur’an berdasarkan pandangan Islam adalah Firman Allah yang diturunkan melalui nabi Muhammad SAW, dengan proses pewahyuan secara berangsur-angsur. Artinya posisi Al-Qur’an adalah sepenuhnya wahyu dari Tuhan, sedangkan Rasulullah ditempatkan sebagai ‘alat/media penyampaian wahyu’ tersebut. Alkitab dari sudut pandang Kristen tidak sama seperti halnya Al-Qur’an, karena Alkitab merupakan kumpulan tulisan/kesaksian manusia tentang keberadaan dan interaksi antara Tuhan dengan umat manusia. Umat Kristen mengatakan Alkitab merupakan firman Tuhan lebih dikarenakan adanya suatu konsep bahwa semua penulis tersebut diilhami oleh Tuhan (dalam hal ini Roh Kudus) dalam proses penulisannya.

Sedangkan Yesus Kristus dari sudut pandang Kristen adalah ‘firman Tuhan yang menjadi daging’, menjelma menjadi manusia dan hidup ditengah-tengah manusia, sehingga ini lebih mirip dengan kedudukan Al-Qur’an dalam ajaran Islam dengan media yang berbeda, yang satu berupa ‘informasi’ yang dihapal dan dicatat, yang lainnya berbentuk manusia utuh.

Terdapat perbedaan antara Al-Qur’an dan Yesus Kristus dalam ajaran agama masing-masing karena Yesus punya ‘fungsi tambahan’, yaitu :

1. Yesus disembah sebagai Tuhan itu sendiri, sedangkan tidak ada seorang Muslimpun menyembah Al-Qur’an.
2. Sebagai akibat dari adanya konsep ‘dosa asal’ maka Yesus berfungsi sebagai oknum penghapus dosa manusia dengan pengorbanan dirinya ditiang salib, sedangkan keselamatan manusia tergantung apakah dia beriman kepada Yesus atau tidak. Sedangkan ajaran Islam tidak mengenal adanya ‘dosa asal’, keselamatan manusia tergantung kepada keimanan dan perjuangannya untuk mematuhi setiap perintah dan larangan yang ada dalam Al-Qur’an.

Kesalahan Kedua; memperbandingkan antara Yesus Kristus dengan nabi Muhammad SAW, bukan dengan Tuhan :

Dalam ajaran Islam, Rasulullah Muhammad SAW merupakan utusan Allah, sebagai pihak ‘saluran wahyu’ sekaligus suri-tauladan bagaimana wahyu tersebut diterapkan dalam kehidupan. Rasulullah befungsi sebagai utusan Allah. Sedangkan Yesus Kristus dalam ajaran Kristen berfungsi sebagai Tuhan yang berinkarnasi menjadi manusia, disembah, tempat dimana do’a dipanjatkan, tempat harapan disandarkan, sekalipun dalam catatan alkitab banyak ayat yang menyatakan Yesus juga berfungsi sebagai utusan. Fungsi Yesus dalam ajaran Kristen adalah sejajar dengan kedudukan Allah dalam ajaran Islam. Setiap umat Islam menjadikan Allah sebagai satu-satunya tempat bermohon, berharap dan tujuan do’a.

Perbedaannya mungkin kalau dalam ajaran Kristen. Yesus bukan satu-satunya tempat mereka bermohon dan berharap, masih ada oknum lain yaitu Bapa dan Roh Kudus, yang dikatakan merupakan kesatuan dengan Yesus, sedangkan dalam ajaran Islam, Allah adalah satu-satunya Tuhan tempat menyembah dan bermohon

Kesalahan Ketiga; memperbandingkan antara 4 Injil kanonik dengan Al-Qur’an, bukan dengan Hadist :

Dalam kitab Perjanjian Baru, Injil Matius, Markus, Lukas dan Johanes merupakan kitab kesaksian dan catatan orang tentang kehidupan Yesus Kristus yang disusun secara kronologis. Bisa dikatakan keempat kitab tersebut adalah ‘biografi’ Yesus Kristus sekalipun tidak dimulai sejak beliau lahir. Dalam catatan tersebut terdapat kutipan-kutipan ucapan dan nasehat Yesus, catatan tingkah-laku dan perbuatan Yesus, termasuk juga pendapat dan pandangan si penulis terkait dengan Yesus (misalnya Yoh 1 bukan merupakan ucapan dan perbuatan Yesus melainkan ‘produk’ dari si penulis sendiri, terlepas darimanapun dia mendapatkan ilham).

Hal ini bisa disejajarkan dengan Hadist. Dalam sudut pandang Islam, posisi Rasulullah Muhammad SAW adalah sebagai ‘agen’ untuk mengimplementasikan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, selain fungsi beliau sebagai agen untuk mentransmisikan wahyu. Makanya ucapan dan tingkah-laku Rasulullah tidak bisa dipisahkan dengan Al-Qur’an. Hadist merupakan catatan para sahabat tentang semua hal yang berkaitan dengan Rasulullah, baik ucapan, nasehat ataupun tingkah-laku dan perbuatannya. Dalam hadist kita bisa menemukan informasi ketika Rasulullah mengutip ayat Al-Qur’an, menafsirkannya dan melaksanakannya. Sama halnya dengan Injil kanonik, didalamnya kita bisa menemukan ucapan Yesus Kristus, berikut dengan tafsiran si penulisnya.

Perbedaan antara Injil kanonik dengan Hadist adalah dalam proses pengumpulannya. Injil Matius, Markus, Lukas, Johanes merupakan ‘hasil seleksi’ dari pihak gereja awal terhadap banyak manuskrip Injil yang ada pada waktu itu. Para penyortir tersebut lalu memilih mana Injil yang diakui dan mana yang dibuang sebagai apokripha. Tentu saja kriterianya adalah : mana yang sesuai dengan pemahaman/aliran si penyortir dan mana yang tidak sesuai. Sebaliknya Hadist disusun oleh para ahli hadist, seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, dll melalui proses ilmiah yang dinamakan ‘isnad’; mengumpulkan catatan Hadist yang ada, meneliti jalur periwayatannya, meneliti isinya, lalu memberikan kategori shahih, hasan (baik), dha’if, dll.

Kesalahan Keempat; memberbandingkan Roh Kudus dengan Jibril, bukan dengan Petunjuk Allah :

Dalam sudut pandang Kristen, Roh Kudus adalah oknum yang datang setelah kepergian Yesus, berfungsi untuk memberikan ilham, petunjuk, bimbingan kepada umat Kristen yang percaya. Roh Kudus dikatakan juga merupakan manifestasi Tuhan juga, oknum yang tidak terpisahkan dari Tuhan itu sendiri. Ini akibat adanya konsep bahwa Tuhan adalah roh yang bisa 'merasuk' kemana-mana, Kristen yang dinyatakan sudah diselamatkan' artinya dalam tubuhnya sudah 'bersemayam' Roh Kudus yang juga merupakan Roh Tuhan.

Malaikat Jibril dalam Islam bukanlah berfungsi sebagai pihak yang mengilhami, membimbing dan memberikan petunjuk kepada manusia, sekalipun dari sudut pandang Islam Jibril disebut juga dengan Ruhul Qudus. Fungsi malaikat Jibril adalah menyampaikan wahyu dan mendamping para nabi/rasul dalam pelaksanaan dakwah mereka.

Sedangkan dalam ajaran Islam, Allah adalah 'sesuatu yang wujud/eksis' yang kemudian dalam istilah manusia/ahli tafsir dikatakan sebagai 'dzat'. Ketika Allah bertindak untuk memberi ilham, petunjuk dan bimbingan-Nya, maka 'bentuk' petunjuk tersebut disesuaikan dengan makhluk si penerima, bukan terkait dengan 'bentuk si Pemberi' karena Pihak yang memberi, yaitu Allah mempunyai 'bentuk' yang tidak bisa disamai oleh makhluk. Petunjuk bisa berbentuk ilham yang muncul dalam pikiran, atau peristiwa/kejadian yang memunculkan inspirasi, atau kecerdasan yang muncul ketika kita membaca Al-Qur'an. Petunjuk dan bimbingan Allah dalam pandangan Islam dilakukan oleh Allah sendiri, Allah memberikan petunjuk untuk memahami diri-Nya, memahami informasi-Nya dalam Al-Qur’an, memahami hasil ciptaan-Nya, sebaliknya Allah juga yang menentukan dan melakukan sendiri apabila Dia tidak mau memberi petunjuk atau menyesatkan manusia. Maka padanan yang tepat tentang posisi Roh Kudus dalam ajaran Kristen adalah Petunjuk Allah.

Dari uraian diatas, kita bisa melihat adanya kesan : Dalam ajaran Kristen terdapat pembatasan yang tidak begitu jelas antara fungsi : Tuhan, Nabi/Rasul-utusan, wahyu atau firman, petunjuk. Fungsi Tuhan bisa saja dilaksanakan oleh sosok manusia, fungsi Yesus sebagai utusan bisa bercampur dengan Yesus sebagai Tuhan, firman Tuhan yang berupa informasi bisa berbentuk manusia, kitab suci yang merupakan firman Tuhan bisa bercampur dengan hasil pikiran manusia yang diilhami Tuhan, dst, dst...
s
Voting Anda
Rating:9.5
Reviewer: AchiyaK Deni
Description: Buka mata hati dan logika sahabat
ItemReviewed: Buka mata hati dan logika sahabat

0 komentar:

komen

AchiyaK ZanJabiL



Mode Hemat Energi,Gerakkan mouse anda untuk kembali ke halaman!