Sebuah catatan perjalanan

oleh Santi Syafiana pada 31 Oktober 2011 jam 23:41


Singgalang di Suatu Petang
Tak tahukah ia, ada sekudung rindu yang kupendam dalam 33 hitungan ruas jari untuk setiap lima kali sehari. Dan bagaimana bisa semua itu malah membebani? 

            Tak bersengaja kumenjelang pertemuan itu dari jauh. Ada sebuah kemenangan besar yang mesti kujemput kala itu. Awan menangis di sepertiga bermula kumelangkah. Tak lupa angin berpacu-pacu tak menentu. Kalau tak musabab pahala memberatkan massa, mungkin telah ikut berkawan-kawan dengan binatang bersayap di awang sana. Tanah yang memunggungi saja yang tetap setia memadatkan langkah agar tak terhuyung dan tertelungkup di badannya. Tak sedikitpun pula kuberani mengkhayalkan apa yang akan terjadi nanti, karena terkadang nyata bersiteguh tak berdamai dengan asa. Ini tak sekedar ambisi menaklukkan apa pun isi bumi, tak jua menjalankan hobi. Malu-malu kutabuh gendang hati. Mari sudahi. Tekadku.
            Tiga jam sudah, kenapa sekejap saja? Apakah perasaan tak tenang sebegitu sensasionalnya. Mengalahkan deras air jatuh dan lelaki yang meneriaki berhenti. Aku sudah tiba di perhentian terakhir yang mampu kulewati dengan kereta roda dua. Sebuah kedai tempat delapan lelaki bercengkrama ditemani kepulan asap teh panas. Dan seorang perempuan yang sedang membuat mie rebus. Kuremas jari yang nyaris beku, sembari berbisik-bisik dalam hati, kalimat apa yang dituntut tatapan sembilan pasang mata itu. Cukupkah dengan, “aku sedang menunggu jemputan?”
Tak lama, seorang lelaki datang dengan mantel kuningnya. Kami berboncengan, mendaki jalanan. Kutelan ludah menelusuri perjalanan yang tersisa. Tergerak hati berjalan kaki saja, iba pada honda RX King hitam yang berderak-derak tiap bergerak melindas lobang dan bebatuan tak beraturan. Lelahku memikirkan sepeda motor, kulayangkan pandang ke kiri kanan jalan. Kabut tak sedikitpun menyurukkan anggunnya alam Singgalang. Mataku dimanjakan dengan pemandangan hijau dari beraneka tumbuhan. Sulit kubuka wawasanku akan tumbuhan jenis apa yang kutemui. Kutahu ada tumbuhan pakis, pakis gajah, rumput dan rumput gajah. Selebihnya, tak ikhlas kumenyebutnya belukar. Kuharap pengetahuanku saja yang kurang akan hal itu. Haha, tak begitu istimewa sesungguhnya, hanya saja, tata letak tetumbuhan itu membuatku terpesona. Melihatnya di lereng gunung tentulah akan terasa berbeda. Terlebih, di antara pemandangan itu, aku juga menemukan rumah yang terlihat seperti kotak-kotak monopoli. Berjejer tak beraturan jauh di bawah sana. Aku berseru-seru di belakang lelaki tadi. Hoalah, pada pertemuan pertama serasa telah berkawan lama saja. Anggap saja ini ulah alam yang menunjukkan kuasanya tanpa batas. Sementara itu, kami sudah dekat dengan tower terakhir, tempat seseorang menanti sedari tadi.
***
“Teh panas sudah lama menunggu,” ucapnya bergegas dari balik huma kayu yang beberapa bagian dindingnya rontok. Sekira 8 x 6 meter sisa peninggalan kedai tempo dulu itu, disulap menjadi tempat persinggahan sebelum memulai pendakian. Tersedia pula sepetak bentukan laiknya kolam penampung hujan untuk keperluan MCK di belakang huma. Dan telah masuk pula listrik tempat charger barang-barang elektronik. Fiuh, para penakluk gunung ini manja sekali, kupikir di sini akan jauh dari bagian yang biasa kutemui. Teringat barang bawaan yang kubawa, “hufff hanya sikat gigi saja.” Kutarik nafas terdalam, kecewa.
Kembali tentangnya. Benar saja, teh yang sejak tadi menunggu terasa mulai dingin. Tak kuasa kuberkata aku tak menyukai teh sejak kumengenal teh. Kecuali Teh Botol Sosro yang didinginkan pada suhu lemari pendingin. Ia memaksa. “Manas” sekali ini, kuharap rasanya berubah karena teh ini darinya. Kuseruput jua. Rasanya tetap sama. Rasa teh. Hmm.
Ia pun mulai membangun tenda. Ditemani teman yang menjemputku tadi sambil berkelakar antah barantah. Aku mencoba menikmati petang di (mungkin) kaki Singgalang sambil sesekali memperhatikannya mendirikan tempat untuk kami tidur malam nanti. Tak jelas bagaimana cara kumenikmati. Kini, ku mulai sibuk mencari-cari mentari.
***
Kabut kini berganti gelap. Ia pun mulai mencari kayu, mematahkan dengan parang, melumuri dengan minyak tanah dan membakarnya dengan sumringah. Sementara, temannya memasak dengan lihai. Aku juga tak mau ketinggalan menolong. Mereka hanya menyerahkan tugas paling ringan yaitu mengelupas kulit kentang dan mengiris pipih untuk digoreng. Itu pun cukup sekian dan terima kasih. Selebihnya mereka berdua yang mengurus segalanya. Dan terciptalah, masakan pertama yang sulit kulupa, cabe yang aneh!
Malampun kian larut. Temannya memilih tidur lebih awal. Sedangkan ia, entah apa yang ia sibukkan berdekat dengan beberapa muda mudi tenda seberang yang sangat berisik. Hingga akhirnya ia datang dan membuka cerita lama. Aku gusar alang kepalang. Belum saatnya kusampaikan tujuanku di malam itu. Tunggulah puncak Singgalang berhasil kujejak dan putihnya awan berhasil kuciduk. Cerita terus bergulir dan tetap pada inti lama. Ia tidak jua bisa mengambil sikap. Satu setengah tahun, ia tetap sama rupanya. Tak tahukah ia, ada sekudung rindu yang kupendam dalam 33 hitungan ruas jari untuk setiap lima kali sehari. Dan bagaimana bisa semua itu malah membebani? Ingin rasanya bersegera menguapkannya di tempat yang paling dekat dengan langit. Sayangnya, semua tak kunjung selesai, ditahan puncak Singgalang yang gagal kurengkuh petang itu. Ah, tetap saja, Tuhan tentu tak sedang bermain dadu.
***
Perjalanan ini tentunya tak sia-sia. Setidaknya rasa susu putih bercampur energen coklat, sarapan malam dan pagi, mie rebus, mie goreng, nasi goreng buatan temannya dan sejuta ceritaku bersama mereka yang akan menjelma menjadi kenangan untuk kubawa pulang.
Santi Syafiana 
Padang, Penghabisan Oktober

NB: Maaf telat ngasih tulisannya bang, semoga melalui tulisan ini, sekecil apapun kebanggan bisa terawetkan.hehe
Voting Anda
Rating:9.5
Reviewer: AchiyaK Deni
Description: Sebuah catatan perjalanan
ItemReviewed: Sebuah catatan perjalanan

0 komentar:

komen

AchiyaK ZanJabiL



Mode Hemat Energi,Gerakkan mouse anda untuk kembali ke halaman!