Semoga Bukan Karena Sepak Bola: sebuah catatan ringan

oleh Ridho Ferdian pada 26 Desember 2010 pukul 9:02


Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

                Bulan ini sedang demam bola lagi. Bisa jadi ini lebih demam karena Tim Indonesia sedang bagus katanya. Itulah yang bisa kita lihat dari perbincangan sehari-hari dan berita di media kita. Tidak masalah jika hal ini tidak melalaikan perkara yang lebih penting. Sesekali memang hati manusia membutuhkan rehat dan kelapangan.
                Namun ………..
                Alangkah kagetnya – saat itu pertandingan antara Indonesia VS Thailand- ketika saya pergi ke mushalla biasa tempat kami shalat, hendak melaksanakan shalat ‘Isya. Ternyata mushalla gelap dan semua pintu dan jendela tutup. Saya tunggu beberapa saat tak juga ada jamaah lain yang datang. Saya berpikir, apakah ini karena sepak bola? Apakah mereka sedang menantikan sepak bola yang mulai 19:30 … padahal waktu ‘Isya saat itu kira-kira jam 19 lewat seperempat. Artinya, mereka masih bisa menyaksikannya dengan tanpa ketinggalan sedikitpun. Saya berharap dan berbaik sangka: Semoga Bukan Karena Sepak Bola.
                Setelah itu hari-hari berlalu seperti biasa …
                Hingga suatu sore menjelang maghrib, saya mesti mendatangi majelis ta’lim rutin, kajian hadits Al Arba’un An Nawawiyah di sebuah mushalla kecil di kawasan Kelapa Dua Wetan. Saat itu, walau pun hari ahad (hari libur pada umumnya di Indonesia), kami masih berada di kantor menyelesaikan tugas-tugas pekerjaan. Kira-kira jam 17 lewat sedikit saya berangkat, ada ikhwan di kantor yang bertanya: “mau ke mana tadz?” Saya jawab: “ada ta’lim rutin ba’da maghrib.” Ikhwan itu mengomentari: “emang ada jamaahnya? Malam ini kan semifinal lawan Filipina.” Saya jawab: “gak tau deh, datang aja dulu.”
                 Saya tiba di lokasi saat shalat maghrib baru dimulai. Setelah shalat usai, salah seorang pengurus mushalla mengumumkan kepada jamaah bahwa setelah shalat akan diadakan  ta’lim rutin tersebut. Alhamdulillah, ternyata jamaah tetap seperti biasa, paling tidak jumlah kehadiran mereka standar seperti biasanya.
                Dipembukaan ta’lim saya katakan kepada jamaah, bahwa saya amat menghargai kehadiran mereka disaat banyak manusia bermajelis di depan televisi mereka menyaksikan semi final AFF, lalu saya katakan: “Nonton atau tidak, toh skornya tidak berubah ‘kan? Apakah gara-gara kita tidak nonton, maka timnas kalah? Menang atau kalah bukan karena kita nonton atau tidak.”  Saya perhatikan sebagian jamaah tersenyum dan manggut-manggut.
                Selesai ta’lim pas azan ‘Isya. Setelah azan, seperti biasa diadakan sesi tanya jawab. Nah,  ternyata sepi tak ada pertanyaan tidak seperti biasanya. Biasanya pertanyaan bisa lebih dari lima orang. Saat itu yang bertanya hanya satu, itupun dari moderator sebagai pertanyaan pancingan. Selesai acara, moderator berkata kepada saya: “Mungkin jamaah pengen buru-buru kali pak, supaya gak kehabisan   nonton bola.” Saya hanya tersenyum, yah bisa jadi sih, soalnya tadi terdengar di luar mushalla banyak suara gemuruh menyambut gol –yang belakangan diketahui dicetak oleh Christian Gonzales, seorang muallaf dari Uruguay.
                Hmm .. saya cuma berharap dan berbaik sangka: Semoga Bukan Karena Sepak Bola.
                Saya mendengar dan melihat langsung ada halaqah yang berganti waktu karena jadwal sepak bola. Ah .. tapi saya  masih berharap: Semoga Bukan Karena Sepak Bola!
                Saya teringat, ketika sebagian mujahidin Afghan pun minta ‘istirahat’ dari jihad, karena ingin melihat aksi Maradona pada piala dunia 1986 di Mexico. Lalu Syaikh Abdullah ‘Azzam menyendir: Hum maradhuuna … mereka menyakiti kita. (mempelesetkan nama Maradona).
                Itu di sana, yang sedang menghadapi pertempuran saat itu. Sementara di sini yang aman-aman saja …

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآَخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ 

                Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. (QS. At taubah (9): 38)

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ .

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, serta perhiasan … (QS. Al Hadid (57): 20)

Wallahul musta’an ……….
di co-past dari: http://abuhudzaifi.multiply.com/journal/item/242/242


Voting Anda
Rating:9.5
Reviewer: AchiyaK Deni
Description: Semoga Bukan Karena Sepak Bola: sebuah catatan ringan
ItemReviewed: Semoga Bukan Karena Sepak Bola: sebuah catatan ringan

0 komentar:

komen

AchiyaK ZanJabiL



Mode Hemat Energi,Gerakkan mouse anda untuk kembali ke halaman!