Welcome To My Website

Just want to share

oleh Refika Gusmawita pada 20 Juni 2011 jam 20:49
just want to share dari milist sebelah..true story nya bagus.. semoga
bermanfaat
Pada hari pernikahanku, aku menggendong istriku. Mobil pengantin
...berhenti di depan apartment kami. Teman-teman memaksaku menggendong
istriku keluar dari mobil. Lalu aku menggendongnya ke rumah kami. Dia
tersipu malu-malu. Saat itu, aku adalah seorang pengantin pria yang
kuat
dan bahagia. Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu.
Hari-hari berikutnya
berjalan biasa. Kami memiliki seorang anak, aku
bekerja sebagai pengusaha
dan berusaha menghasilkan uang lebih. Ketika
aset-aset perusahaan meningkat,
kasih sayang diantara aku dan istriku
seperti mulai menurun. Istriku seorang
pegawai pemerintah. Setiap pagi
kami pergi bersama dan pulang hampir di
waktu yang bersamaan. Anak kami
bersekolah di sekolah asrama. Kehidupan
pernikahan kami terlihat sangat
bahagia, namun kehidupan yang tenang
sepertinya lebih mudah terpengaruh
oleh perubahan-perubahan yang tak
terduga.
Lalu Jane datang ke dalam kehidupanku. Hari itu hari yang cerah.
Aku
berdiri di balkon yang luas. Jane memelukku dari belakang. Sekali lagi
hatiku seperti terbenam di dalam cintanya. Apartment ini aku belikan
untuknya. Lalu Jane berkata, "Kau adalah laki-laki yang pandai memikat
wanita." Kata-katanya tiba-tiba
mengingatkan ku pada istriku. Ketika kami
baru menikah, istriku
berkata "Laki-laki sepertimu, ketika sukses nanti,
akan memikat banyak
wanita." Memikirkan hal ini, aku menjadi ragu-ragu. Aku
tahu, aku
telah mengkhianati istriku.
Aku menyampingkan tangan Jane
dan berkata, "Kamu perlu memilih
beberapa furnitur, ok? Ada yang perlu aku
lakukan di perusahaan." Dia
terlihat tidak senang, karena aku telah berjanji
akan menemaninya
melihat-lihat furnitur. Sesaat, pikiran untuk bercerai
menjadi semakin
jelas walaupun sebelumnya tampak mustahil. Bagaimanapun juga,
akan
sulit untuk mengatakannya pada istriku. Tidak peduli selembut
apapun
aku mengatakannya, dia akan sangat terluka. Sejujurnya, dia adalah
seorang istri yang baik. Setiap malam, dia selalu sibuk menyiapkan
makan
malam. Aku duduk di depan televisi. Makan malam akan segera
tersedia.
Kemudian kami menonton TV bersama. Hal ini sebelumnya
merupakan hiburan
bagiku.
Suatu hari aku bertanya pada istriku dengan bercanda, "Kalau
misalnya
kita bercerai, apa yang akan kamu lakukan?" Dia menatapku beberapa
saat
tanpa berkata apapun. Kelihatannya dia seorang yang percaya bahwa
perceraian tidak akan datang padanya. Aku tidak bisa membayangkan
bagaimana reaksinya ketika nanti dia tahu bahwa aku serius tentang ini.
Ketika istriku datang ke kantorku, Jane langsung pegi keluar. Hampir
semua pegawai melihat istriku dengan pandangan simpatik dan mencoba
menyembunyikan apa yang sedang terjadi ketika berbicara dengannya.
Istriku seperti mendapat sedikit petunjuk. Dia tersenyum dengan lembut
kepada bawahan-bawahanku. Tapi aku melihat ada perasaan luka
dimatanya.
Sekali lagi, Jane berkata padaku, "Sayang, ceraikan dia, ok?
Lalu kita
akan hidup bersama." Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak bisa
ragu-ragu
lagi. Ketika aku pulang malam itu, istriku sedang menyiapkan makan
malam. Aku menggemgam tangannya dan berkata, "Ada yang ingin aku
bicarakan."Dia kemudian duduk dan makan dalam diam. Lagi, aku melihat
perasaan luka dari matanya. Tiba-tiba aku tidak bisa membuka mulutku.
Tapi aku harus tetap
mengatakan ini pada istriku. Aku ingin bercerai. Aku
memulai
pembicaraan dengan tenang.
Dia seperti tidak terganggu dengan
kata-kataku, sebaliknya malah
bertanya dengan lembut, "Kenapa?" Aku
menghindari pertanyaannya. Hal
ini membuatnya marah. Dia melempar sumpit dan
berteriak padaku, "Kamu
bukan seorang pria!" Malam itu, kami tidak saling
bicara. Dia menangis.
Aku tahu, dia ingin mencari
tahu apa yang sedang
terjadi di dalam pernikahan kami. Tapi aku sulit
memberikannya jawaban yang
memuaskan, bahwa hatiku telah memilih Jane.
Aku tidak mencintainya lagi. Aku
hanya mengasihaninya! Dengan perasaan
bersalah, aku membuat perjanjian
perceraian yang menyatakan bahwa
istriku bisa memiliki rumah kami, mobil
kami dan 30% aset perusahaanku.
Dia melirik surat itu dan kemudian
merobek-robeknya. Wanita yang telah
menghabiskan 10 tahun hidupnya denganku
telah menjadi seorang yang
asing bagiku. Aku menyesal karena telah
menyia-nyiakan waktu, daya dan
tenaganya tapi aku tidak bisa menarik kembali
apa yang telah aku
katakan karena aku sangat mencintai Jane. Akhirnya istriku
menangis
dengan keras di depanku, yang telah aku perkirakan sebelumnya.
Bagiku,
tangisannya adalah semacam pelepasan. Pikiran tentang perceraian
yang
telah memenuhi diriku selama beberapa minggu belakangan,
sekarang
menjadi tampak tegas dan jelas.
Hari berikutnya, aku pulang
terlambat dan melihat istriku menulis
sesuatu di meja makan. Aku tidak makan
malam, tapi langsung tidur dan
tertidur dengan cepat karena telah seharian
bersama Jane. Ketika aku
terbangun, istriku masih disana, menulis. Aku
tidak
mempedulikannya dan langsung kembali tidur. Paginya, dia menyerahkan
syarat perceraiannya: Dia tidak menginginkan apapun dariku, hanya
menginginkan perhatian selama sebulan sebelum perceraian. Dia meminta
dalam 1 bulan itu kami berdua harus berusaha hidup sebiasa mungkin.
Alasannya sederhana : Anak kami sedang menghadapi ujian dalam sebulan
itu, dan dia tidak mau mengacaukan anak kami dengan perceraian
kami.
Aku setuju saja dengan permintaannya. Namun dia meminta satu lagi,
dia
memintaku untuk meingat bagaimana menggendongnya ketika aku
membawanya
ke kamar pengantin, di hari pernikahan kami. Dia memintanya selama
1
bulan setiap hari, aku menggendongnya keluar dari kamar kami, ke pintu
depan setiap pagi. Aku pikir dia gila. Aku menerima permintaannya yang
aneh karena hanya ingin membuat hari-hari terakhir kebersamaan kami
lebih mudah diterima olehnya. Aku memberi tahu Jane tentang syarat
perceraian dari istriku. Dia tertawa keras dan berpikir bahwa hal itu
berlebihan. "Trik apapun yang dia gunakan, dia harus tetap menghadapi
perceraian!", kata Jane, dengan nada menghina.
Istriku dan aku sudah
lama tidak melakukan kontak fisik sejak
keinginan untuk bercerai mulai
terpikirkan olehku. Jadi, ketika aku
menggendongnya di hari pertama, kami
berdua tampak canggung. Anak kami
tepuk tangan di belakang kami. Katanya,
"Papa menggendong mama!" Kata-
katanya membuat ku merasa terluka. Dari kamar
ke ruang tamu, lalu ke
pintu depan, aku berjalan sejauh 10 meter, dengan
dirinya dipelukanku.
Dia menutup mata dan berbisik padaku, "Jangan bilang
anak kita mengenai
perceraian ini." Aku mengangguk, merasa sedih. Aku
menurunkannya di
depan pintu. Dia pergi untuk menunggu bus untuk bekerja.
Aku sendiri
naik mobil ke kantor.
Hari kedua, kami berdua lebih
mudah bertindak. Dia bersandar di
dadaku. Aku bisa mencium wangi dari
pakaiannya. Aku tersadar, sudah
lama aku tidak sungguh-sungguh memperhatikan
wanita ini. Aku sadar dia
sudah tidak muda lagi, ada garis halus di
wajahnya, rambutnya memutih.
Pernikahan kami telah membuatnya susah. Sesaat
aku terheran, apa yang
telah aku lakukan padanya.
Hari keempat,
ketika aku menggendongnya, aku merasa rasa kedekatan
seperti kembali lagi.
Wanita ini adalah seorang yang telah memberikan
10 tahun kehidupannya
padaku. Hari kelima dan keenam, aku sadar rasa
kedekatan kami semakin
bertumbuh. Aku tidak mengatakan ini pada Jane.
Seiring berjalannya
waktu
semakin mudah menggendongnya. Mungkin karena aku rajin
berolahraga membuatku
semakin kuat.
Satu pagi, istriku sedang memilih pakaian yang dia ingin
kenakan. Dia
mencoba beberpa pakaian tapi tidak menemukan yang pas. Kemudian
dia
menghela nafas, "Pakaianku semua jadi besar." Tiba-tiba aku tersadar
bahwa dia telah menjadi sangat kurus. Ini lah alasan aku bisa
menggendongnya dengan mudah. Tiba-tiba aku terpukul. Dia telah memendam
rasa sakit dan kepahitan yang luar biasa di hatinya. Tanpa sadar aku
menyentuh kepalanya.
Anak kami datang saat itu dan berkata, "Pa,
sudah waktunya menggendong
mama keluar." Bagi anak kami, melihat ayahnya
menggendong ibunya keluar
telah menjadi arti penting dalam hidupnya. Istriku
melambai pada anakku
untuk mendekat dan memeluknya erat. Aku mengalihkan
wajahku karena
takut aku akan berubah pikiran pada saat terakhir. Kemudian
aku
menggendong istriku, jalan dari kamar, ke ruang tamu, ke pintu depan.
Tangannya melingkar di leherku dengan lembut. Aku menggendongnya dengan
erat, seperti ketika hari pernikahan kami. Tapi berat badannya yang
ringan membuatku sedih. Pada hari terakhir, ketika aku menggendongnya,
sulit sekali bagiku untuk bergerak. Anak kami telah pergi ke sekolah.
Aku menggendongnya dengan erat dan
berkata, "Aku tidak memperhatikan
kalau selama ini kita kurang
kedekatan."
Aku pergi ke kantor, keluar
cepat dari mobil tanpa mengunci pintunya.
Aku takut, penundaan apapun akan
mengubah pikiranku. Aku jalan keatas,
Jane membuka pintu dan aku berkata
padanya, "Maaf, Jane, aku tidak mau
perceraian." Dia menatapku, dengan heran
menyentuh keningku. "Kamu
demam?", tanyanya. Aku menyingkirkan tangannya
dari kepalaku. "Maaf,
Jane, aku bilang, aku tidak akan bercerai." Kehidupan
pernikahanku
selama ini membosankan mungkin karena aku dan istriku tidak
menilai
segala detail kehidupan kami, bukan karena kami tidak saling
mencintai.
Sekarang aku sadar, sejak aku menggendongnya ke rumahku di hari
pernikahan kami, aku harus terus menggendongnya sampai maut memisahkan
kami.
Jane seperti tiba-tiba tersadar. Dia menamparku keras kemudian
membanting pintu dan lari sambil menangis. Aku turun dan pergi keluar.
Di toko bunga, ketika aku berkendara pulang, aku memesan satu buket
bunga untuk istriku. Penjual menanyakan padaku apa yang ingin aku tulis
di kartunya. Aku tersenyum dan menulis, aku akan menggendongmu setiap
pagi sampai maut memisahkan kita.
Sore itu, aku sampai rumah, dengan
bunga di tanganku, senyum di
wajahku, aku berlari ke kamar atas, hanya untuk
menemukan istriku
terbaring di tempat tidur - meninggal. Istriku telah
melawan kanker
selama berbulan-bulan dan aku terlalu sibuk dengan Jane
sampai tidak
memperhatikannya. Dia tahu dia akan segera meninggal, dan dia
ingin
menyelamatku dari reaksi negatif apapun dari anak kami, seandainya
kami
jadi bercerai. -- Setidaknya, di mata anak kami --- aku adalah suami
yang penyayang.
Hal-hal kecil di dalam kehidupanmu adalah yang
paling penting dalam
suatu hubungan. Bukan rumah besar, mobil, properti atau
uang di bank.
Semua ini menunjang kebahagian tapi tidak bisa memberikan
kebahagian
itu sendiri. Jadi, carilah waktu untuk menjadi teman bagi
pasanganmu,
dan lakukan hal-hal yang kecil bersama-sama untuk membangun
kedekatan
itu. Miliki pernikahan yang sungguh-sungguh dan
bahagia.
Kalau kamu tidak share ini, tidak akan terjadi apa-apa padamu.
Kalau
share, mungkin kamu menyelamatkan satu pernikahan. Banyaknya kegagalan
dalam kehidupan karena orang tidak sadar betapa dekat mereka dengan
kesuksesan ketika mereka telah menyerah.
Voting Anda
Rating:9.5
Reviewer: Unknown
Description: Just want to share
ItemReviewed: Just want to share

0 komentar:

komen

AchiyaK ZanJabiL



Mode Hemat Energi,Gerakkan mouse anda untuk kembali ke halaman!