AKHWAT SEJATI DAN RUANG BESAR AMANAH DAKWAH


oleh Maisal Fitri Binti Syahrial pada 27 Maret 2010 pukul 16:28




Tantangan Ruang Besar Dakwah Akhwat

Dalam buku Ummatuna baina Qarnain, DR Yusuf Al-Qarahawi menyebutkan sejumlah kegagalan kaum muslimin sepanjang abad 20. Salah satunya adalah kegagalan dalam masalah perempuan. Kita terjebak pada 2 sikap ekstrim, berlebihan dan ceroboh atau antara dua kejahiliahan. Sebagian kaum muslimin mengekang kaum hawa; mereka dilarang mengendarai kendaraan atau bekerja di luar rumah, memasung hak-hak politik perempuan bahkan ada di suatu negeri, kaum perempuan tidak memiliki hak pilih dalam PEMILU apalagi mencalonkan diri sebagai anggota parlemen. Anehnya pemasungan hak perempuan itu dilakukan atas nama Islam dan hukum syariah.

Di sisi lain, realitas ekstrim berbeda muncul ke permukaan yakni pembebasan perempuan yang berlebihan dari kaum liberalis muslim. Mereka sangat bersemnagat meniru budaya Barat dan mengikuti filsafat liberalisme mereka tanpa seleksi. Ideologi mereka berkembang pesat dalam berbagai hal; cara berfikir, berperilaku, mode pakaian , kosmetik, hubungan lawan jenis, pertunangan dan perkawinan.

Fenomena ini memabawa akhwat di dua jalan berliku yang taja. Di sini pula kemudian akhwat mujahidah harus menajamkan pandangan atas permasalahan ummat Islam; masalah yang sangat krusial dan multidimensi. Dakwah dalam pandangan para akhwat harus jauh menembus batas tembok-tembok rumah mungil yang asri. Pandangan akan tantangan ruang besar dakwah juga harus menembus batas-batas kekinian. Para akhwat tidak boleh merasa puas dengan keadaan rumah yang nampak aman. Ia harus jauh memikirkan bagaimana kehidupan nak-anaknya kelak. Ia harus menjamin keselamatan akhlak dan kondisi masyarakat saat anaknya tumbuh dewasa.

Para akhwat harus jeli melihat kewajiban dan perannya yang multidimensi. Ia tidak boleh terjebak dalam satu sisi yang ditawarkan ”ingin bebas” atau ”ketergantungan”. Akhwat harus ampu memandang permasalahan amanah dakwah tidak sebatas membina keluarga saja, tetapi juga masyarakat secara umum.

Masalah Kesiapan Akhwat

Oleh karena itu dibutuhkan kesiapan para akhwat untuk menjalani peran mereka yang multidimensi. Ustdzah Nursanita Nasution , ME memberikan gambaran seperti apa bentuk kesiapan yang dibutuhkan:

Pertama, kesiapan pribadi saat menghadapi gejolak kehidupan. Ini kesiapan yang paling sederhana tapi mendasar. Bagaimana akhwat bisa disebut atngguh jika ia labil saat menghadapi gejolak diri. Apalagi jika kemudian jatuh ke dalam arus-arus negatif yang membahayakan. Setiap manisia dihadirkan berbagai cobaan dan ujian. Tinggal cara menyikapinya. Para akhwat yang tanngguh tentunya harus selalu menemukan formula penyelesaian dari etipa masalah. Para akhwat harus sadar bahwa mereka memiliki banyak tiang untuk berpegangan, banyak telinga untuk mendengar permasalah dan banyak tangan yang akan menolong. Selama ia masih berpegang pada ikatan kuat komunitas, maka sebenarnya tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan.

Kedua, siap dari segi pemikiran. Maksudnya, mengusahakan agar pendapatnya bisa diterima masyarakat. Bahkan tidak sekedar merespon tapi mempercayakan setiap masalah untuk dipecahkan oleh kader dakwah. Sebagaimana firman Allah, ”Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka peselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan menerima dengan sepenuhnya.”(QS An-Nisaa : 65).

Karakter Utama akhwat Sejati

Akhirnya dibutuhkan sosok akhwat yang mampu menanggung beban berat peran dakwah. Dimana sejumlah karakter yang diidamkan dakwah terwujud dalam diri para akhwat mujahidah. Karakter tersebut antara lain :

Kepribadian yang kuat; pribadi yang kuat tak lain adalah wujud dari tertanamnya nilai-nilai Syakhsiyah Islamiyah yang dalam. Sebab wujud keimanan dan ketaqwaan selalu menghasilkan kepribadian manusia yang utuh. Sempurna antara ucapan dan perbuatan. Seseorang ayng memiliki pribadi yang kuat pasti akan menjadi keteladanan bagi orang lain.

Keberanian dan kepercayaan diri. Buah utama dari keimanan adalah keberanian dan kepercayaan diri penuh. Seorang akhwat yang memiliki sifat ini tidak akan gentar dan takut menghadapi berbagai kritik dan cemooh yang menimpa. Apabula saat pilihan itu sudah tepat menurut Islam, ia senantiasa kokoh tanpa ragu kala harus membuat keputusan-keputusan penting.

Berpikir rasional dan sistematik, memiliki kemampuan intelektual dalam mengkritik, mengevaluasi, membangun, menantang dan memilih. Kemampuan ini terbangun umumnya jika terbiasa dalam iklim tandzim (organisasi) yang rapi. Seluruh kemampuan dalam segi aqliyah terbentuk seiring perkembangan dan pengalaman yan ia raih bersama gerakan dakwah. Ia paham benar mana prioritas, mana asesoris. Yang mana esensi, yang mana bungkus. Ia memahami konsep gerakan dakwah secara komprehensif bukan juz’iyah. Pada saat harus mengkritik, ia sampaikan mana yang membangun dan membuang yang kontraproduktif.

Kemandirian. Di sinilah kemudian wujud utuh ketangguhan seorang akhwat sejati diuji. Sebab kemandirian adalah tujuan pembinaan diri. Murobbi, mentor, pembina, guru tidak lain adalah stimulus dan pemberi inspirasi atas setiap gerak dan ucap saat kita sendiri. Bukan orang lain. Jadi, kemandirian harus menjadi karakter yang terbangun dalam diri kader dakwah. Tidak ada pilihan untuk menjadi cengeng! Wallahu a’lam.

Semoga kita, terutama yang membaca tulisan ini berusaha menjadi akhwat dambaan ummat yang tidak hanya mensholehkan diri sendiri dan keluarga tapi juga berkontribusi dalam kesholehan sosial (masyarakat) terutama bagi kaum kita (hawa).

(Taken from Majalah Al- Izzah Edisi 10/Th.4/Nov 2004 M)
Voting Anda
Rating:9.5
Reviewer: AchiyaK Deni
Description: AKHWAT SEJATI DAN RUANG BESAR AMANAH DAKWAH
ItemReviewed: AKHWAT SEJATI DAN RUANG BESAR AMANAH DAKWAH

0 komentar:

komen

AchiyaK ZanJabiL



Mode Hemat Energi,Gerakkan mouse anda untuk kembali ke halaman!