Jangan Melihat dari Sudut Pandang Sempit


oleh Ridho Ferdian pada 12 Mei 2011 pukul 17:09


Suatu hari seorang suami pulang kerja
Dan mendapati tiga orang anaknya sedang berada di depan rumah
Semuanya bermain lumpur, dan masih memakai pakaian tidur
Berarti semenjak bangun tidur, mereka belum mandi dan belum berganti pakaian.

Sang suami melangkah menuju rumah lebih jauh..

Ternyata .. kotak-kotak bekas bungkus makanan tersebar di mana-mana
Kertas-kertas bungkus dan plastic bertebaran tidak karuan
Dan … pintu rumah bagian depan dalam keadaan terbuka.

Begitu ia melewati pintu dan memasuki rumah …

masyaAllah … kacau … berantakan …

ada lampu yang pecah
ada sajjadah yang tertempel dengan permen karet di dinding
televisi dalam keadaan on dan dengan volume maksimal
boneka bertebaran di mana-mana
pakaian acak-acakan tidak karuan menyebar ke seluruh penjuru ruangan,

dapur? Ooooh tempat cucian piring penuh dengan piring kotor
sisa makanan pagi masih ada di atas meja makan
pintu kulkas terbuka lebar,

sang suami mencoba melihat lantai atas
ia langkahi boneka-boneka yang berserakan itu
ia injak-injak pula pakaian yang berserakan tersebut
maksudnya adalah hendak mendapatkan istrinya
siapa tahu ada masalah serius dengannya.

pertama sekali ia dikejutkan oleh air yang meluber dari kamar mandi
semua handuk berada di atas lantai dan basah kuyup
sabun telah berubah menjadi buih
tisu kamar mandi sudah tidak karuan rupa, bentuk dan tempatnya
cermin penuh dengan coretan-coretan odol,

dan....

begitu ia melompat ke kamar tidur...

ia dapati istrinya sedang tiduran sambil membaca komik!!!

?????#$%!?

Melihat kepanikan sang suami, sang istri memandang kepadanya dengan tersenyum.

Dengan penuh keheranan sang suami bertanya: “apa yang terjadi hari ini wahai istriku?!!”.

Sekali lagi sang istri tersenyum seraya berkata:

“Bukankah setiap kali pulang kerja engkau bertanya dengan penuh ketidakpuasan: ‘apa sih yang kamu kerjakan hari ini wahai istriku’, bukankah begitu wahai suamiku tersayang?!”

“Betul” jawab sang suami.

“Baik,” kata sang istri,

“hari ini, aku tidak melakukan apa yang biasanya aku lakukan”.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pesan yang ingin disampaikan adalah:

1. Penting sekali semua orang memahami, betapa orang lain mati-matian dalam menyelesaikan pekerjaannya, dan betapa besar pengorbanan yang telah dilakukan oleh orang lain itu agar kehidupan ini tetap berimbang, berimbang antara MENGAMBIL dan MEMBERI, TAKE and GIVE.

2. Dan … agar tidak ada yang mengira bahwa dialah satu-satunya orang yang habis-habisan dalam berkorban, menanggung derita, menghadapi kesulitan dan masalah serta menyelesaikannya.

3. Dan … jangan dikira bahwa orang-orang yang ada di sekelilingnya, yang tampaknya santai, diam, dan enak-enakan … jangan dikira bahwa mereka tidak mempunyai andil apa-apa.

4. Oleh karena itu, HARGAILAH JERIH PAYAH DAN KIPRAH ORANG LAIN dan JANGAN MELIHAT DARI SUDUT PANDANG YANG SEMPIT.

---

Ust. Musyaffa: "Terus terang apa yang saya postingkan ini, saya sendiri pun sedang berusaha untuk mentarbiyah diri dengannya."

 //Termasuk "saya" sendiri.

Penulis: Ust. Musyaffa Abdurrahim, Lc.
sumber: http://pkspiyungan.blogspot.com/2011/05/menjemput-kesetiaan.html
Voting Anda
Rating:9.5
Reviewer: AchiyaK Deni
Description: Jangan Melihat dari Sudut Pandang Sempit
ItemReviewed: Jangan Melihat dari Sudut Pandang Sempit

0 komentar:

komen

AchiyaK ZanJabiL



Mode Hemat Energi,Gerakkan mouse anda untuk kembali ke halaman!