Welcome To My Website

Tampilkan postingan dengan label Santi Syafiana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santi Syafiana. Tampilkan semua postingan

Saya dan Kematian-Kematian

oleh Santi Syafiana pada 13 Juni 2010 jam 12:12


Tadi pagi saya menyaksikan kematian. Tiga minggu lalu saya juga menyaksikan kematian dan empat bulan yang lalu saya sendiri yang mengalami kematian. Dalam rentang waktu yang berbeda, kematian berhasil mengganggu stabilitas hidup saya.

Hingga detik sebelum saya menulis fragmen demi fragmen kata yang terlintas begitu saja dalam kepala saya, saya masih bersitegang otot dan otak tentang haruskah saya dokumentasikan peristiwa yang tak mengenakkan ini hingga terkekalkan dalam bentuk sebuah catatan singkat.

Saya rasa tak ada salahnya juga saya ragu, karena tulisan demi tulisan tentang saya, saya dan saya ini hanyalah hal yang biasa bagi pembaca, sementara saya jungkir balik menjalaninya. Namun, memendamnya ternyata jauh lebih sulit.

Kembali kepada kematian yang ingin saya bicarakan. Tadi pagi saya menyaksikan kematian. Perhatian saya terpusat pada yang mati dan yang ditinggal mati. Saya mendengar betapa kosongnya tangis kehilangan yang ditinggal mati dan betapa damainya wajah yang mengalami mati. Ah, kematian ini membuat saya menyesal tak meninggalkan telinga saya di balik tempat tidur barang sebentar saja.

Kemudian, tiga minggu yang lalu saya juga menyaksikan kematian. Bedanya, saya sedikit bisa tenang karena saya tak perlu menyesal tak meninggalkan telinga saya di balik tempat tidur. Namun, saya malah lebih meradang dalam kematian ini, karena saya tak hanya tak melihat orang yang mati namun juga tak melihat yang ditinggal mati itu hingga detik ini. Sudah tiga minggu ini saya menunggunya di kampus, di tempat kursus Bahasa Inggris dan di jalan yang biasa dia lalui, namun hasilnya nihil.

Saya sempat membayangkan pembimbing satu dan dua yang sudah menyetujui dan menentukan tanggal untuk seminar proposal. Kedua pembimbing sedang memain-mainkan bolpoint di atas tumpukan kertas sambil mengatakan, “belum ada dalam sejarah, dosen menunggu mahasiswa, apa-apan ini,” kemudian keduanya keluar dari dalam ruangan sambil membuang tumpukan kertas itu menjadi helaian-helaian tak beraturan. Kemudian datang seorang berseragam abu-abu muda dengan sapu di tangan kanan dan sekop di tangan kiri. Kemudian, kemudian, dan kemudiannya lagi, cukup di dalam khayalan saya saja.

Dan yang terakhir, saya bukanlah yang menyaksikan kematian, tapi saya sendiri yang mengalami kematian. Kematian kecil, begitulah saya mendefinisikannya. Berpisah dengan seseorang yang pernah saya sayangi sepenuh hati, uh klise sekali. Tapi saya ada benarnya juga, bukankah perpisahan bisa saya katakan kematian karena ada yang hilang dalam perpisahan. Persis sama dengan konsep kematian, ada yang hilang, ada yang ditinggalkan dan ada yang meninggalkan.

Memang benar, dengan segala kesoktahuan saya, saya katakan, perpisahan saya dengan orang yang saya sayangi adalah sebuah kematian kecil. Saya tak tahu apakah itu benar atau tidak. Tentunya sampai sekarang saya masih merasa di dunia ini tak ada yang benar. Semuanya hanya agak benar, mendekati benar atau lumayan benar.

Seperti yang pernah saya baca dari penulis favorit saya, Seno Gumira Ajidarma bahwa kebenaran itu mustahil diketahui karena manusia selalu berada dalam kondisi ketercakrawalaannya sendiri. Manusia tak akan pernah mampu menengok seberang cakrawala itu sedangkan apa yang manusia ketahui antara dirinya hanya sampai di batas cakrawala itu.
Yah, seperti kematian yang saya bicarakan ini.
Santi Syafiana, menjelang 13 Juni 
Voting Anda
Rating:9.5
Reviewer: Unknown
Description: Saya dan Kematian-Kematian
ItemReviewed: Saya dan Kematian-Kematian

Biarkan Cinta Berkisah

oleh Santi Syafiana pada 30 September 2010 jam 10:50


Pergi kau, bangsat, saya lebih senang mendengar kata-kata bergenre demikian keluar dari mulutmu. Lebih tepatnya, saya butuh. Saya siap menghadapi apapun kemungkinan terburuk. Namun maaf saja, saya tak akan merendah minta maaf atau pun menghiba. Walau bagaimanapun saya hanya manusia yang tak berdaya menentang hukum alam. Hukum dimana hidup manusia, 85% dipengaruhi oleh lingkungannya dan 15 % nurani yang enggan sekali didengar. Pun saya tak menyesal dengan jalan yang pernah saya pilih, karena pelajaran yang saya dapat tak akan saya temukan di kampus maupun kursus termahal manapun.
***
Saya tak menyangka, satu tahun dua hari tanpa kabar tentang mu merubah saya menjadi penulis dyari yang rajin serta penghayal yang mahir, sekaligus penderita insomnia, dan terjangkit wabah murung tanpa sebab. Lantas, apa yang harus saya perbuat? Akibat dari sebuah penghianatan memang di luar dugaan. Obatnya pun adalah bertemu dengan mu. Aih. saya merasa berkasta “Sudra” jika memikirkan hal itu.

Hingga pada suatu malam yang tenang, saya berani menelponmu. Menekan 12 angka yang terawat baik dalam ingatan saya, bukanlah hal yang mudah. Dalam sejarah, baru kali ini saya berdoa agar kau mengata-ngatai saya dengan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Sekedar untuk meyakinkan lagi bahwa saya adalah orang yang bersalah bukan dari sudut pandang saya saja. Hua ha, ha..suasana semakin tak jelas.

Lima kali nada tu….t, tak kunjung ada jawaban. Saya ulang lagi dengan rasa cemas tak tertanggungkan. Belum pernah saya sekasar ini menekan tombol-tombol telepon genggam. Ah, perlakuanmu malah lebih sadis dari kebutuhan. Namun saya tak menyerah, saya ulang lagi, dengan jiwa patriot yang masih tersisa, hingga tak lama kemudian terdengar suara lembut dari seberang. “Apa kabar dinda? Sehat-sehat saja kan?” sapamu lembut. Oh tidaaaak, saya kewalahan, karena semua tak berjalan sesuai konteks yang saya bidani dengan keringat dingin.

Ah, kau masih sama seperti lelaki yang  saya kenal dulu. Tak ada istilah before and after seperti yang saya bayangkan. Lelaki penyayang, idola saya dari zaman belajar alif, ba, ta. Sosok yang membuat saya pensiun bergelar “miss lebay”, walau sebentar di dekatmu saja. Kita berbincang lama. Kota, sayur, buah, pasar dan buku masuk ke dalam daftar pembicaraan kita malam itu. Walau begitu, inti perbincangan kita hanya satu, yaitu kau mencari yang lain karena saya merasa tak pantas lagi. Kau keberatan sedangkan saya berlagak sok tegar. Ketika akhirnya kau setuju, air mata saya sudah sampai ke dagu.
***
-2 hari pasca idul fitri 

Kerinduan yang saya punya masih sama seperti bertahun-tahun yang lalu. Begitupun sayang yang saya punya. Ternyata, sama seperti yang kau katakan malam itu. Melupakanmu sama saja memisahkan pelangi dari warnanya. Saya teramat merasakannya.
Kita bersama hari itu, menyusuri jalanan macet orang-orang berlebaran. Di sepanjang jalan, saya menghitung detik waktu yang tak koheren dengan detak jantung saya. Dan lagi-lagi kita membicarakan cinta. Saya terkesiap. Tak jauh beda dari tahun-tahun lalu. Masih saja kau bersiteguh dengan prinsipmu. Cinta bagimu tak ternilai. Tak cukup ditunaikan dengan transaksi jadian dan putus. Pacaran hanya membuka peluang besar untuk berpisah. “Aku tak mau berpisah,“ tegasmu kala itu. Sungguh tak  keren sekali, pikir saya empat bulan usai janji kita.

Katamu lagi, kau tak ingin menguras tenaga untuk sesuatu yang sudah ditakdirkan. Jodoh kita sudah tertulis di sana, berdoalah agar tertulis nama kita. Saya tak ingin kita dekat di dunia namun bermusuhan di alam sana. “Itu sama saja membunuh ku,” bisikmu. Lebay, pikir saya lima bulan usai janji kita. Enam bulan setelah itu, saya lupa tentang kita, dan berubah 1800  di mata kau tentunya.

“Lupakanlah, jadikan saja itu pelajaran,” ujarmu tenang. Kemudian saya berusaha menatapmu. Sengaja saya berlama-lama, tentunya  untuk bekal saya di masa mendatang sembari berdoa, semoga jarak tak melumatkan kita dipikiran masing-masing.

Saruaso, 12 September dini hari
Voting Anda
Rating:9.5
Reviewer: Unknown
Description: Biarkan Cinta Berkisah
ItemReviewed: Biarkan Cinta Berkisah

Tentang Kita di Suatu Senja

oleh Santi Syafiana pada 10 Juli 2010 jam 11:48


Tentu saja kita tak pernah menyukai senja. Pembunuh, begitu bahkan kita mengata-ngatainya. Bagaimana tidak? Senjalah yang selalu membatasi kemunculan kita bersama. Senja datang begitu saja dan melumat bulat-bulat matahari yang kita suka. Akibatnya, kita harus berpisah dengan perpisahan alakadarnya. Say good bye, besok kita tentu berjumpa lagi. Ah,,,betapa seminggu hanya diberi 7 hari, satu harinya sebatas 24 jam. Itupun satu jamnya hanya 60 menit. Mana pernah kita menyebutnya cukup, karena parahnya, harus didiskon lagi dengan 14 jam. Malam terlalu tabu untuk kita bersama. Lebih baik gosok gigi, basuh tangan, kaki dan pergi tidur. Besok kita bersama lagi.

Ketika bersama, kita mengapalah. Paling hanya berjingkat-jingkat di batu tepi pantai, menghitung jalur lintasan angkutan labor, menghitung umur rata-rata manusia 100 tahun mendatang dan bernyanyi dengan alunan musik dari perut kita. Namun, walau begitu, saya kagum pada kita, karena kita bersama, membuat saya menyukai hari. Saya jadi menyukai senin, selasa, rabu, kamis, jumat, dan terlebih hari minggu. Sengaja tidak saya buat hari sabtu, karena di hari itu kita akan berjejalan dengan bus antar kota. Saya ingin kita sepakat untuk membenci hari sabtu.

Sekarang, kita melingkar di depan sesajen berhiaskan cocoa dan darah ayam. Kata penjualnya, ini black forest. Saya rasa, menghadirkan sesajen secantik ini termasuk prestasi terbesar kita tahun ini. Kemudian, kita mengeluarkan suara terbaik kita masing-masing. Dan kemudiannya lagi setelah kemudian yang tadi, saya tiba di bagian yang tersulitnya. Make a Wish, begitu orang kampung saya biasa menyebutnya. Diam-diam dalam hati, saya berujar, semoga pada keseratus kali 9 Juli nanti, saya tetap merayakannya bersama kita. Untuk doa saya menjadi istri cucu pemilik gramedia cukup menjadi doa kedua saya.

Namun, yang keluar dari mulut saya malah, semoga saya cepat gemuk. Haha, doa yang sebenarnya cukup di dalam hati saya. Jika saya mengatakannya, saya akan kerepotan menyembunyikan semu merah di wajah saya nanti.

“Bersama lagi,” kita belum sempat mengukur kedalaman kata itu. Yang jelas untuk saat ini kita memang bersama lagi. Sebelum saya memulai menulis catatan ini dengan senyum yang tak henti-hentinya mengembang di wajah saya, saya tercenung sendiri. Saya pun mengoperasi hati saya, apa gerangan yang sebenarnya terjadi. Ah, lihatlah kecemasan di dalam palung hati itu. Tahulah saya bahwa ulang tahun saya ini kembar identik dengan senja. Dia akan melumat saya perlahan-lahan dari kita. Jujur saja, saya gamang. Kalau saya berdiri dengan toga nanti, saya belum siap membenci senin, selasa, rabu, kamis, jumat dan minggu karena saya belum bersedia meminta Dikti memrogramkan 10 tahun untuk jenjang SI.

Gajah, detik penghabisan 9 juli.
Voting Anda
Rating:9.5
Reviewer: Unknown
Description: Tentang Kita di Suatu Senja
ItemReviewed: Tentang Kita di Suatu Senja

Terakhir Untuk Dikenang

oleh Santi Syafiana pada 05 Maret 2011 jam 13:14


Kala mengajar jadi tantangan, bukan rutinitas

Sepuluh menit berlalu, 41 siswa di ruangan itu belum juga tenang. Sorot mata penuh selidik anak-anak usia 15-an itu membuat semangatku turun drastis. Aku pun tak berdaya menantang bola mata itu. Mungkin mereka bertanya, makhluk kecil mungil dari planet manakah aku ini?
20 menit berlalu. Kompetensi pedagogik pun dikerahkan. Pendekatan psikologi dan personal semakin digencarkan, dan ahrgggg……Aku gugup bukan main. Tubuh kecil dan wajah imut membatasi ruang gerakku.
***

Awalnya, tiga kelas tempatku praktek lapangan kependidikan (PLK) terlihat angker. Pengisian Kartu Rencana Studi via online mempertemukanku dengan anak-anak SMA yang tengah menjalani kompleksitas masa remaja mereka. Hal ini ternyata bukanlah persoalan gampang, apalagi jika dibandingkan dengan perangaiku diusia serupa tempo dulu.
Masa remaja memang suatu masa ketika tingkat pubertas dan tangkapan akan pengaruh dari luar, besar. Sekolah juga tempat dimana mereka datang dengan membawa semua keterbatasan dan ketaktahuan mereka. Tak ayal jika mereka suka bikin onar, malas belajar, membangkang pada guru dan doyan ribut di kelas. Aku rasa itu bukanlah salah mereka, karena siklus remaja ini lah yang menuntunnya berprilaku seperti itu. Namun, bukan berarti guru tak bisa mengarak mereka ke jalan yang lurus. Hanya saja semuanya butuh proses. Kurasa tak perlu memarahi, yang terpenting adalah memotivasi. Setidaknya prinsip itu yang kupegang ketika mengajar.

Kembali ke tiga kelas yang inginku ceritakan. Mereka memiliki coraknya tersendiri. Dimulai dari kelas X.8. Siswa-siswa di kelas ini yang paling tenang dan manut dibanding dua kelas lainnya. Walau ada juga yang pembangkang, paling hanya dua atau tiga orang. Tak jarang target mengajarku tercapai di kelas ini. Mereka banyak diam namun sayangnya sebagian besar hanya menerawang, Alhasil suasana belajar pasif. Tak seru karena sedikit sekali yang aktif bertanya maupun menjawab pertanyaan.
            Kemudian kelas X.7. Kelas yang cukup mengesankan karena penghuninya nakal luar biasa. Namun, motivasi belajar mereka cukup tinggi. Prinsipku sebagai guru yang bukan tipe pemarah karena memang susah marah, tergadaikan. Di kelas inilah aku berhasil menghasilkan emosi terhebat pertamaku.
            Terakhir kelas X.6. Kelas yang menantang karena memang siswanya memiliki semangat belajar dan jiwa kritis yang tinggi. Walau ada beberapa oknum yang membuatku kewalahan, namun itu biarlah ku jadikan pelajaran. Aku juga sering marah di kelas ini namun cukup terbayarkan dengan nilai ulangan mereka yang bagus. Di kelas ini lah aku acap menyapa siswa dengan anak-anakku. Itu cukup membuat mereka terdiam dan perutku geli. Separoh dari mereka menjawab “ya mamaku”. Aku pun tersinggung.

Dan sekarang, lagi-lagi aku berhadapan dengan hukum keseimbangan alam. Perpisahan diciptakan untuk menyeimbangkan pertemuan agar kehidupan tetap terus berjalan. Tentu saja aku tak akan lupa dengan cara khas Ferry Sandria bertanya, Tri Mey Necky si tukang tidur dan usil bukan main, tawa besar Ogi yang membahana ke seisi kelas, antusias Ummu dan Sari membedah soal hukum keseimbangan kimia, senyum lebar Afif kala mendapat white list terbanyak, kekritisan Andam, Ardi Desfiandra yang mengaku teman separtai denganku, manjanya Arief untuk terus diperhatikan belajar, pendiamnya Diah yang selalu duduk di belakang, manyunnya Dwina kalau sudah bermasalah dengan Filka, kekhasan wajah Hindustannya Farhen, Filka sang ketua kelas yang super sibuk, Gracia yang sering ku panggil Metha, Ilpake Pasca yang semoga bisa Ikut Langkah Papa Ke Pasca sesuai namanya, Mardianto dan Rudi yang namanya sering ku panggil, Fuad yang selalu siap jika dibawa ke Palestina, Putri Intan Sagolta yang super imut, Putri Yuliana yang cerewet, Restu yang selalu duduk di samping Andam, Reva yang tampan namun pemalu dan pendiam, Rihan yang mungil, Risha dengan semangat 45 nya belajar ikatan kovalen, Rizky yang kerap bikin onar namun sesungguhnya pintar, Rory sang abang X.6, Sherly Mutia yang cengeng, Windi yang sering dapat hadiah dariku, Aditya Prayanda yang sibuk dengan acara perpisahan, Ardhi Wardana si ketua kelas X.7 yang pengambek, Goldy yang menggebu-gebu dalam belajar, Denal yang mengisi lembaran jawaban C2H5 dengan prikitiw, Insan yang suka bilang “ndeeeee ibuk koo”, Iqbal yang suka ku suruh duduk di depan, Jefri si kecil mungil yang mencatat semua kata-kataku ketika marah besar di kelas X.7, M Ridwan yang selalu usil mengangkat tangan ketika latihan, Putra Setiawan yang berkoar-koar “selamatkan anak mu ini buk”, Sherly Maisa Putri yang kutahu namanya Atun, Bima Marta yang serius belajar untuk ujian di mushalla. Dan nama lainnya yang akan membuat ini kalimat terpanjang di dunia jika ku teruskan.

Tentunya perpisahan ini belum bisa diterima karena ku merasa berjalan malah baru sepertiganya. Tapi apalah daya, aku belum bersedia meminta guru pamong mengganti huruf A di buku nilai dengan C yang berarti mengulang.

Penghujung tahun 2010



Voting Anda
Rating:9.5
Reviewer: Unknown
Description: Terakhir Untuk Dikenang
ItemReviewed: Terakhir Untuk Dikenang

Sebuah catatan perjalanan

oleh Santi Syafiana pada 31 Oktober 2011 jam 23:41


Singgalang di Suatu Petang
Tak tahukah ia, ada sekudung rindu yang kupendam dalam 33 hitungan ruas jari untuk setiap lima kali sehari. Dan bagaimana bisa semua itu malah membebani? 

            Tak bersengaja kumenjelang pertemuan itu dari jauh. Ada sebuah kemenangan besar yang mesti kujemput kala itu. Awan menangis di sepertiga bermula kumelangkah. Tak lupa angin berpacu-pacu tak menentu. Kalau tak musabab pahala memberatkan massa, mungkin telah ikut berkawan-kawan dengan binatang bersayap di awang sana. Tanah yang memunggungi saja yang tetap setia memadatkan langkah agar tak terhuyung dan tertelungkup di badannya. Tak sedikitpun pula kuberani mengkhayalkan apa yang akan terjadi nanti, karena terkadang nyata bersiteguh tak berdamai dengan asa. Ini tak sekedar ambisi menaklukkan apa pun isi bumi, tak jua menjalankan hobi. Malu-malu kutabuh gendang hati. Mari sudahi. Tekadku.
            Tiga jam sudah, kenapa sekejap saja? Apakah perasaan tak tenang sebegitu sensasionalnya. Mengalahkan deras air jatuh dan lelaki yang meneriaki berhenti. Aku sudah tiba di perhentian terakhir yang mampu kulewati dengan kereta roda dua. Sebuah kedai tempat delapan lelaki bercengkrama ditemani kepulan asap teh panas. Dan seorang perempuan yang sedang membuat mie rebus. Kuremas jari yang nyaris beku, sembari berbisik-bisik dalam hati, kalimat apa yang dituntut tatapan sembilan pasang mata itu. Cukupkah dengan, “aku sedang menunggu jemputan?”
Tak lama, seorang lelaki datang dengan mantel kuningnya. Kami berboncengan, mendaki jalanan. Kutelan ludah menelusuri perjalanan yang tersisa. Tergerak hati berjalan kaki saja, iba pada honda RX King hitam yang berderak-derak tiap bergerak melindas lobang dan bebatuan tak beraturan. Lelahku memikirkan sepeda motor, kulayangkan pandang ke kiri kanan jalan. Kabut tak sedikitpun menyurukkan anggunnya alam Singgalang. Mataku dimanjakan dengan pemandangan hijau dari beraneka tumbuhan. Sulit kubuka wawasanku akan tumbuhan jenis apa yang kutemui. Kutahu ada tumbuhan pakis, pakis gajah, rumput dan rumput gajah. Selebihnya, tak ikhlas kumenyebutnya belukar. Kuharap pengetahuanku saja yang kurang akan hal itu. Haha, tak begitu istimewa sesungguhnya, hanya saja, tata letak tetumbuhan itu membuatku terpesona. Melihatnya di lereng gunung tentulah akan terasa berbeda. Terlebih, di antara pemandangan itu, aku juga menemukan rumah yang terlihat seperti kotak-kotak monopoli. Berjejer tak beraturan jauh di bawah sana. Aku berseru-seru di belakang lelaki tadi. Hoalah, pada pertemuan pertama serasa telah berkawan lama saja. Anggap saja ini ulah alam yang menunjukkan kuasanya tanpa batas. Sementara itu, kami sudah dekat dengan tower terakhir, tempat seseorang menanti sedari tadi.
***
“Teh panas sudah lama menunggu,” ucapnya bergegas dari balik huma kayu yang beberapa bagian dindingnya rontok. Sekira 8 x 6 meter sisa peninggalan kedai tempo dulu itu, disulap menjadi tempat persinggahan sebelum memulai pendakian. Tersedia pula sepetak bentukan laiknya kolam penampung hujan untuk keperluan MCK di belakang huma. Dan telah masuk pula listrik tempat charger barang-barang elektronik. Fiuh, para penakluk gunung ini manja sekali, kupikir di sini akan jauh dari bagian yang biasa kutemui. Teringat barang bawaan yang kubawa, “hufff hanya sikat gigi saja.” Kutarik nafas terdalam, kecewa.
Kembali tentangnya. Benar saja, teh yang sejak tadi menunggu terasa mulai dingin. Tak kuasa kuberkata aku tak menyukai teh sejak kumengenal teh. Kecuali Teh Botol Sosro yang didinginkan pada suhu lemari pendingin. Ia memaksa. “Manas” sekali ini, kuharap rasanya berubah karena teh ini darinya. Kuseruput jua. Rasanya tetap sama. Rasa teh. Hmm.
Ia pun mulai membangun tenda. Ditemani teman yang menjemputku tadi sambil berkelakar antah barantah. Aku mencoba menikmati petang di (mungkin) kaki Singgalang sambil sesekali memperhatikannya mendirikan tempat untuk kami tidur malam nanti. Tak jelas bagaimana cara kumenikmati. Kini, ku mulai sibuk mencari-cari mentari.
***
Kabut kini berganti gelap. Ia pun mulai mencari kayu, mematahkan dengan parang, melumuri dengan minyak tanah dan membakarnya dengan sumringah. Sementara, temannya memasak dengan lihai. Aku juga tak mau ketinggalan menolong. Mereka hanya menyerahkan tugas paling ringan yaitu mengelupas kulit kentang dan mengiris pipih untuk digoreng. Itu pun cukup sekian dan terima kasih. Selebihnya mereka berdua yang mengurus segalanya. Dan terciptalah, masakan pertama yang sulit kulupa, cabe yang aneh!
Malampun kian larut. Temannya memilih tidur lebih awal. Sedangkan ia, entah apa yang ia sibukkan berdekat dengan beberapa muda mudi tenda seberang yang sangat berisik. Hingga akhirnya ia datang dan membuka cerita lama. Aku gusar alang kepalang. Belum saatnya kusampaikan tujuanku di malam itu. Tunggulah puncak Singgalang berhasil kujejak dan putihnya awan berhasil kuciduk. Cerita terus bergulir dan tetap pada inti lama. Ia tidak jua bisa mengambil sikap. Satu setengah tahun, ia tetap sama rupanya. Tak tahukah ia, ada sekudung rindu yang kupendam dalam 33 hitungan ruas jari untuk setiap lima kali sehari. Dan bagaimana bisa semua itu malah membebani? Ingin rasanya bersegera menguapkannya di tempat yang paling dekat dengan langit. Sayangnya, semua tak kunjung selesai, ditahan puncak Singgalang yang gagal kurengkuh petang itu. Ah, tetap saja, Tuhan tentu tak sedang bermain dadu.
***
Perjalanan ini tentunya tak sia-sia. Setidaknya rasa susu putih bercampur energen coklat, sarapan malam dan pagi, mie rebus, mie goreng, nasi goreng buatan temannya dan sejuta ceritaku bersama mereka yang akan menjelma menjadi kenangan untuk kubawa pulang.
Santi Syafiana 
Padang, Penghabisan Oktober

NB: Maaf telat ngasih tulisannya bang, semoga melalui tulisan ini, sekecil apapun kebanggan bisa terawetkan.hehe
Voting Anda
Rating:9.5
Reviewer: Unknown
Description: Sebuah catatan perjalanan
ItemReviewed: Sebuah catatan perjalanan

AchiyaK ZanJabiL



Mode Hemat Energi,Gerakkan mouse anda untuk kembali ke halaman!