Tentang Kita di Suatu Senja

oleh Santi Syafiana pada 10 Juli 2010 jam 11:48


Tentu saja kita tak pernah menyukai senja. Pembunuh, begitu bahkan kita mengata-ngatainya. Bagaimana tidak? Senjalah yang selalu membatasi kemunculan kita bersama. Senja datang begitu saja dan melumat bulat-bulat matahari yang kita suka. Akibatnya, kita harus berpisah dengan perpisahan alakadarnya. Say good bye, besok kita tentu berjumpa lagi. Ah,,,betapa seminggu hanya diberi 7 hari, satu harinya sebatas 24 jam. Itupun satu jamnya hanya 60 menit. Mana pernah kita menyebutnya cukup, karena parahnya, harus didiskon lagi dengan 14 jam. Malam terlalu tabu untuk kita bersama. Lebih baik gosok gigi, basuh tangan, kaki dan pergi tidur. Besok kita bersama lagi.

Ketika bersama, kita mengapalah. Paling hanya berjingkat-jingkat di batu tepi pantai, menghitung jalur lintasan angkutan labor, menghitung umur rata-rata manusia 100 tahun mendatang dan bernyanyi dengan alunan musik dari perut kita. Namun, walau begitu, saya kagum pada kita, karena kita bersama, membuat saya menyukai hari. Saya jadi menyukai senin, selasa, rabu, kamis, jumat, dan terlebih hari minggu. Sengaja tidak saya buat hari sabtu, karena di hari itu kita akan berjejalan dengan bus antar kota. Saya ingin kita sepakat untuk membenci hari sabtu.

Sekarang, kita melingkar di depan sesajen berhiaskan cocoa dan darah ayam. Kata penjualnya, ini black forest. Saya rasa, menghadirkan sesajen secantik ini termasuk prestasi terbesar kita tahun ini. Kemudian, kita mengeluarkan suara terbaik kita masing-masing. Dan kemudiannya lagi setelah kemudian yang tadi, saya tiba di bagian yang tersulitnya. Make a Wish, begitu orang kampung saya biasa menyebutnya. Diam-diam dalam hati, saya berujar, semoga pada keseratus kali 9 Juli nanti, saya tetap merayakannya bersama kita. Untuk doa saya menjadi istri cucu pemilik gramedia cukup menjadi doa kedua saya.

Namun, yang keluar dari mulut saya malah, semoga saya cepat gemuk. Haha, doa yang sebenarnya cukup di dalam hati saya. Jika saya mengatakannya, saya akan kerepotan menyembunyikan semu merah di wajah saya nanti.

“Bersama lagi,” kita belum sempat mengukur kedalaman kata itu. Yang jelas untuk saat ini kita memang bersama lagi. Sebelum saya memulai menulis catatan ini dengan senyum yang tak henti-hentinya mengembang di wajah saya, saya tercenung sendiri. Saya pun mengoperasi hati saya, apa gerangan yang sebenarnya terjadi. Ah, lihatlah kecemasan di dalam palung hati itu. Tahulah saya bahwa ulang tahun saya ini kembar identik dengan senja. Dia akan melumat saya perlahan-lahan dari kita. Jujur saja, saya gamang. Kalau saya berdiri dengan toga nanti, saya belum siap membenci senin, selasa, rabu, kamis, jumat dan minggu karena saya belum bersedia meminta Dikti memrogramkan 10 tahun untuk jenjang SI.

Gajah, detik penghabisan 9 juli.
Voting Anda
Rating:9.5
Reviewer: AchiyaK Deni
Description: Tentang Kita di Suatu Senja
ItemReviewed: Tentang Kita di Suatu Senja

0 komentar:

komen

AchiyaK ZanJabiL



Mode Hemat Energi,Gerakkan mouse anda untuk kembali ke halaman!