Terakhir Untuk Dikenang

oleh Santi Syafiana pada 05 Maret 2011 jam 13:14


Kala mengajar jadi tantangan, bukan rutinitas

Sepuluh menit berlalu, 41 siswa di ruangan itu belum juga tenang. Sorot mata penuh selidik anak-anak usia 15-an itu membuat semangatku turun drastis. Aku pun tak berdaya menantang bola mata itu. Mungkin mereka bertanya, makhluk kecil mungil dari planet manakah aku ini?
20 menit berlalu. Kompetensi pedagogik pun dikerahkan. Pendekatan psikologi dan personal semakin digencarkan, dan ahrgggg……Aku gugup bukan main. Tubuh kecil dan wajah imut membatasi ruang gerakku.
***

Awalnya, tiga kelas tempatku praktek lapangan kependidikan (PLK) terlihat angker. Pengisian Kartu Rencana Studi via online mempertemukanku dengan anak-anak SMA yang tengah menjalani kompleksitas masa remaja mereka. Hal ini ternyata bukanlah persoalan gampang, apalagi jika dibandingkan dengan perangaiku diusia serupa tempo dulu.
Masa remaja memang suatu masa ketika tingkat pubertas dan tangkapan akan pengaruh dari luar, besar. Sekolah juga tempat dimana mereka datang dengan membawa semua keterbatasan dan ketaktahuan mereka. Tak ayal jika mereka suka bikin onar, malas belajar, membangkang pada guru dan doyan ribut di kelas. Aku rasa itu bukanlah salah mereka, karena siklus remaja ini lah yang menuntunnya berprilaku seperti itu. Namun, bukan berarti guru tak bisa mengarak mereka ke jalan yang lurus. Hanya saja semuanya butuh proses. Kurasa tak perlu memarahi, yang terpenting adalah memotivasi. Setidaknya prinsip itu yang kupegang ketika mengajar.

Kembali ke tiga kelas yang inginku ceritakan. Mereka memiliki coraknya tersendiri. Dimulai dari kelas X.8. Siswa-siswa di kelas ini yang paling tenang dan manut dibanding dua kelas lainnya. Walau ada juga yang pembangkang, paling hanya dua atau tiga orang. Tak jarang target mengajarku tercapai di kelas ini. Mereka banyak diam namun sayangnya sebagian besar hanya menerawang, Alhasil suasana belajar pasif. Tak seru karena sedikit sekali yang aktif bertanya maupun menjawab pertanyaan.
            Kemudian kelas X.7. Kelas yang cukup mengesankan karena penghuninya nakal luar biasa. Namun, motivasi belajar mereka cukup tinggi. Prinsipku sebagai guru yang bukan tipe pemarah karena memang susah marah, tergadaikan. Di kelas inilah aku berhasil menghasilkan emosi terhebat pertamaku.
            Terakhir kelas X.6. Kelas yang menantang karena memang siswanya memiliki semangat belajar dan jiwa kritis yang tinggi. Walau ada beberapa oknum yang membuatku kewalahan, namun itu biarlah ku jadikan pelajaran. Aku juga sering marah di kelas ini namun cukup terbayarkan dengan nilai ulangan mereka yang bagus. Di kelas ini lah aku acap menyapa siswa dengan anak-anakku. Itu cukup membuat mereka terdiam dan perutku geli. Separoh dari mereka menjawab “ya mamaku”. Aku pun tersinggung.

Dan sekarang, lagi-lagi aku berhadapan dengan hukum keseimbangan alam. Perpisahan diciptakan untuk menyeimbangkan pertemuan agar kehidupan tetap terus berjalan. Tentu saja aku tak akan lupa dengan cara khas Ferry Sandria bertanya, Tri Mey Necky si tukang tidur dan usil bukan main, tawa besar Ogi yang membahana ke seisi kelas, antusias Ummu dan Sari membedah soal hukum keseimbangan kimia, senyum lebar Afif kala mendapat white list terbanyak, kekritisan Andam, Ardi Desfiandra yang mengaku teman separtai denganku, manjanya Arief untuk terus diperhatikan belajar, pendiamnya Diah yang selalu duduk di belakang, manyunnya Dwina kalau sudah bermasalah dengan Filka, kekhasan wajah Hindustannya Farhen, Filka sang ketua kelas yang super sibuk, Gracia yang sering ku panggil Metha, Ilpake Pasca yang semoga bisa Ikut Langkah Papa Ke Pasca sesuai namanya, Mardianto dan Rudi yang namanya sering ku panggil, Fuad yang selalu siap jika dibawa ke Palestina, Putri Intan Sagolta yang super imut, Putri Yuliana yang cerewet, Restu yang selalu duduk di samping Andam, Reva yang tampan namun pemalu dan pendiam, Rihan yang mungil, Risha dengan semangat 45 nya belajar ikatan kovalen, Rizky yang kerap bikin onar namun sesungguhnya pintar, Rory sang abang X.6, Sherly Mutia yang cengeng, Windi yang sering dapat hadiah dariku, Aditya Prayanda yang sibuk dengan acara perpisahan, Ardhi Wardana si ketua kelas X.7 yang pengambek, Goldy yang menggebu-gebu dalam belajar, Denal yang mengisi lembaran jawaban C2H5 dengan prikitiw, Insan yang suka bilang “ndeeeee ibuk koo”, Iqbal yang suka ku suruh duduk di depan, Jefri si kecil mungil yang mencatat semua kata-kataku ketika marah besar di kelas X.7, M Ridwan yang selalu usil mengangkat tangan ketika latihan, Putra Setiawan yang berkoar-koar “selamatkan anak mu ini buk”, Sherly Maisa Putri yang kutahu namanya Atun, Bima Marta yang serius belajar untuk ujian di mushalla. Dan nama lainnya yang akan membuat ini kalimat terpanjang di dunia jika ku teruskan.

Tentunya perpisahan ini belum bisa diterima karena ku merasa berjalan malah baru sepertiganya. Tapi apalah daya, aku belum bersedia meminta guru pamong mengganti huruf A di buku nilai dengan C yang berarti mengulang.

Penghujung tahun 2010



Voting Anda
Rating:9.5
Reviewer: AchiyaK Deni
Description: Terakhir Untuk Dikenang
ItemReviewed: Terakhir Untuk Dikenang

0 komentar:

komen

AchiyaK ZanJabiL



Mode Hemat Energi,Gerakkan mouse anda untuk kembali ke halaman!